"Njrit. Kerjaan lo, nyet." maki Adri.
Itu adalah kalimat pertama yang keluar setelah mereka berdua terdiam, dimaki cewek yang nggak sengaja... mereka "siram".
Di tempatnya, Justin mulai tertawa pelan menyadari apa yang terjadi barusan. Entah apa yang lucu, tapi perutnya tergelitik untuk tertawa.
"Kacau nih, baru masuk aja udah dapet musuh." komentar Adri kemudian ikut terkekeh.
"Ash, she could be just another Jakartans." lempar Justin tanpa bermaksud meledek, memutar bola mata birunya.
Nggak lama kemudian dua cowok itu sudah sibuk memutari kolam renang. Beradu cepat kemampuan berenang dengan berbagai gaya. Menikmati kegembiraan sederhana yang mereka suka lakukan. Justin sudah membayangkan bar nanti malam untuk melengkapi hari liburnya ini.
Berasal dari Northen Melbourne, Australia, cowok bermata biru, berambut jabrik ke atas itu sudah menjalani hari ke enam puluhnya di Bali. Bertemu Adri pada hari pertama, dia merasa cukup beruntung meskipun kegilaan Adri kadang sedikit abnormal.
Setelah lulus dari salah satu universitas Melbourne mempelajari culinary, Justin meminta ijin orang tuanya untuk berkelana sebentar, mencari inspirasi akan apa yang akan dia buat sekaligus mencoba berbagai macam kuliner di tempat-tempat yang ia mau tuju. Bali hanya satu dari lima tujuannya.
Untungnya saja ia berasal dari keluarga yang mampu untuk memenuhi keinginan dan ambisinya.
Keberadaanya menetap dia Bali lebih lama daripada yang ia kira jelas tidak lepas dari pengaruh Adri, cowok tinggi asal Bali itu membuatnya membuka mata tentang Bali lebih dalam. Termasuk mengenalkannya pada Ayahnya, dimana pemilik satu Hotel di kawasan Kuta, memaksa Ayahnya mencicipi masakan Justin, dan viola ia mendapatkan pekerjaan paruh waktu di hotel itu ditambah bayaran.
Dan hubungan mereka sekarang sudah semakin seperti saudara. Bedanya tidak ada orang yang percaya mereka saudara melihat perbedaan ras yang ada.
Namun dari tingkah laku, Ibu Adri sudah mulai kewalahan.
"That's her, right? One with pink Balinese top?" tanya Justin melihat cewek yang tadi mereka siram melenggang di satu koridor Hotel. Tampak sudah mengganti bajunya tapi raut wajahnya terlihat datar setelah kejadian mengagetkan beberapa saat lalu.
"I think so. She's not mad anymore, i think." komentar Adri memicingkan mata.
"You think should we apologize again to her, or what?" tanya Justin usil melihat Adri tampak sedikit terlalu lama memicingkan matanya.
"Heck no, only if you want her to kick our ass." sahut Adri cepat.
"I am thinking about what to eat tonight. Got any idea where to go? atau sudah punya rencana lain?" tanya Justin.
"Nanti malem ada final Liga Champion, nonton itu ajalah sama Ayah, Ibu? You bother? Dad must wants you to cook." jawab Adri nyengir mupeng.
"Sure. I don't mind to do that. As long as you ask her to have dinner with us, as your apology for what happened before." trik Justin.
Melebarkan bola matanya cepat Adri menolak keras, "Are you nuts?! Me? Asking her?! Do you forget they way she looked at us? Extremely angry moments ago?!"
"That's why you need to apology, no? She hasn't said 'yes' though. You have to show some Australian gentle manners to her." tambah Justin.
"There's no such thing happen here." Adri bersikeras.
'Sinting apa ajakin anak orang makan malem nggak ada angin hujan gini?!' pikir Adri dalam hati.
"If you don't want to do that, i'll do." kata Justin beberapa saat dan langsung mengangkat badannya keluar dari kolam renang.
Melihat teman bulenya itu melenggang santai Adri hanya mau mengamati dari kejauhan.
Bali
18.05
Menarik kerah bajunya untuk kesekian kali, Adri akhirnya sampai di depan kamar 1107 yang ia tuju. Mengumpat dalam hati akan kelakuan binal Justin, teman bulenya yang agak nggak tau diri itu, entah dari mana ia sekarang berada, tapi yang jelas ia harus menjemput Nicole, untuk makan malam dengan mereka.
Yap, benar sekali, tadi siang Justin berhasil membujuk Nicole untuk makan malam bareng dengan alasan permintaan maaf. Emangnya ini Amerika?
Tapi bagaimana pun juga, sebagai satu tamu di Hotel Ayahnya sendiri, Adri punya tanggung jawab untuk menjamunya. Terlebih dengan ketidaksengajaan yang terjadi tadi siang.
Meskipun hati kecilnya mengatakan pendapat Justin itu berlebihan, ia tidak bisa menolak. Ditambah Ibunya, ya.. Justin memasukkan Ibunya kedalam skenario terlalu berlebihan ini. Ibunya meminta Adri untuk meminta maaf sampai cewek itu, atau Nicole memaafkan dia dengan sah dan tulus.
Menggelengkan kepalanya absurd, ini adalah kesekian kalinya Justin melemparkan satu skenario absurd kehadapannya.
Tok, tok!
Adri memlih mengetuk pintu dibanding menekan bel.
Jantungnya berdetak lebih kencang, mengingat ia sudah agak lama absen melakukan hal semacam ini.
Begitu pintunya dibuka, melihat wajah orang yang tak sengaja ia siram tadi siang, kelu sudah lidah laki-laki ini. Ditambah Nicole berdiri disana dengan tenangnya. Membuat Adri semakin nggak tau mau mulai bicara darimana.
"Hai?" sapa Nicole duluan bingung dengan diamnya Adri.
"Hai, eh.. sorry sorry. Udah siap?" tanya Adri bingung. Pikirannya bertengkar dalam asumsi, dan kesadaran diri yang terlalu tinggi.
"Sudah. Dimana makannnya? Elo udah siap?"
'He's right. another Jakartans.'
"Udah, ada di bungalow belakang kok. Following you." menjaga tingkah lakunya Adri mempersilahkan Nicole untuk berjalan terlebih dahulu.
Memperhatikan gadis itu sekilas, mau tak mau Adri harus mengakui kalau dia memang patut marah walaupun perlakuannya tadi siang tidak sengaja.
"Liburan ke Bali?" tanya Adri basa basi memulai pembicaraan.
"Yep. Elo juga kan?" Nicole bertanya balik dengan ramahnya.
"Nggak, gue tinggal disini kok. Solo getaway it is?" tebak Adri tersenyum sekilas.
"Bisa dibilang begitu." jawab Nicole ikut tersenyum.
"Gue Adri, Adriano." Adri akhirnya memperkenalkan diri sewaktu mereka menaiki lift.
"Nicole, panggil aja Nikki." jawab Nicole menyambut uluran tangan Adri.
"Tentang yang tadi siang, sorry banget itu bener-bener nggak sengaja. Si Justin tadi yang dorong, dan gue nggak kira bakal kena elo segitunya banget."
"Nggak apa lagi. Tadi gue kaget, makanya responnya juga segitunya banget. Tadi siang Justin udah kasi tau kok kalau kalian nggak ada maksud," jawab Nikki tersenyum. Adri ikut tersenyum.
"Malem ini si Justin yang masak. Dia jago urusan dapur gini, anggap aja ini balesan kita karena elo udah kaget tadi." ujar Adri.
"Hahah, it surely fine with me. Kalian nggak harus segininya lah." jawab Nikki terkekeh.
"Nggak kok, ini udah sepantasnya." tandas Adri nggak beralasan.
"Well if you insist. Tapi kalian ini saudara? Bukan kan?" Nikki mengutarakan rasa penasarannya.
"Menurut lo?" Adri balas bertanya dan Nikki tersenyum mengerti.
The Village Resto
18.20
Tersenyum bangga Adri berjalan berdampingan dengan Nikki menuju meja dimana Ibunya dan Justin sudah duduk menunggu.
Malam itu mereka memilih meja di tengah jendela pintu yang separuhnya menghadap pemandangan Hotel. Melihat Adri dan Nikki mendekat, Justin dan Ibu Adri beranjak berdiri.
"Selamat malam, nama saya Nicole, panggil saja Nikki." sapa Nikki memperkenalkan diri kepada wanita separuh baya yang ia tidak kenal. Justin tidak menyebutkan mengenai kehadirannya tadi siang.
"Malam, Nikki. Maaf soal tingkah laku Adri dan Justin tadi siang ya? Saya Irma, panggil saja Irma atau Tante kalau kamu keberatan, Ibu Adri." jawab Ibu Adri ramah.
Adri tersenyum kecil melihat kekagetan di wajah Nikki saat Ibu memperkenalkan diri.
"Ah! Untuk itu saya sudah lupa sekarang. Bahkan sebenarnya tidak perlu repot begini, saya nggak kenapa-napa tadi, cuma kaget saja." jawab Nikki nggak enak hati.
"Adri dan Justin yang mau kamu datang. Jarang-jarang mereka berdua dapat hari libur dan menambah teman katanya. Nggak keberatan kan?"
Nikki menggelengkan kepala menjawabnya.
Dan begitu mereka semua duduk, Justin dan Adri maisng-masing memberikan kode mata yang hanya mereka yang tahu.
28 May, 2012
22 May, 2012
1; (Nikki)
Jakarta.
05.04
"Mau dibantu Mbak bawa kopernya?" tanya seorang muda menggunakan pakaian biru-biru yang lebih terlihat pudar.
"Nggak usah." jawab Nicole setelah memberi pandangan sekilas.
"Nggak berat, Mbak? Cuma lima ribu aja kok." tanya pemuda itu lagi.
"Nggak usah." jawab Nicole terdengar kesal.
Sebelum pemuda itu sempat memberinya tawaran yang lain, Nicole segera mengambil koper-kopernya dan berjalan masuk ke dalam Bandara. Alasan dia kesini sudah cukup membuat kepalanya kesal dan lelah, nggak perlu ada orang lain lagi yang nambah-nambahin alasan dia pengen keluar dari kota ini sejenak.
Beberapa saat kemudian ia sudah duduk di salah satu ruang tunggu boarding Bandara, menyumbat telinganya dengan iPod, Nicole menikmati paginya sembari matahari masih berjalan naik.
Rey: Nikki, dimana lo! Jgn macem2!
Nikki, panggilan akrab Nicole, gadis itu hanya tersenyum kecil membaca pesan panik dari Kakaknya. Barang telat semenit saja Nikki telat mematikan handphone, Rey pasti sudah bisa melacak dia dimana sekarang.
'Bye Jakarta, I'll see you when I see you.' katanya dalam hati begitu berjalan memasuki badan pesawat.
Bali.
07.32
Melintasi jalanan kecil Bali pagi itu, kekesalan di wajah Nikki sudah berganti dengan senyum yang tidak berhenti mengembang di wajahnya. Penerbangannya nyaman, dan ia sudah bebas dan urusan yang melelahkan di kota asalnya.
Dan kalaupun nanti Rey bisa nemuin dia dimana, memangnya salah kalau dia mau cari hiburan sebentar? Toh ia juga bakal balik. Masalahnya sih Nikki belum memutuskan kapan dia mau balik ke Jakarta.
"Halo." jawab Nikki tersenyum.
"Lo dimana?!" tanya Rey nyaris berteriak di seberang sana.
"Duh, Rey. Nggak usah teriak gitu, ini masih pagi..." jawab Nikki kalem.
"Ya elo jawablah lo lagi dimana!"
"Bali nih, mau nyusul?" tanya Nikki santai.
"... Lo sinting ya, Nik?! Trus ini projectnya Pak Aryo siapa yang urus?!" bukannya mereda, suara Rey sudah nyaris tercekik.
"Elo lah! Kan bukan cuma gue dong yang dikasi tanggung jawab." sahut Nikki mulai kesal. Nama yang baru disebut Rey barusan adalah nama terakhir yang pengen dia dengar sekarang.
"Oke gue urus. Ngomong apa nih sama bokap, nyokap?" tanya Rey setelah terdiam sejenak.
"Terserah lo, Rey."
"Ati-ati lo ya, Nik. Jangan aneh-aneh. Balik kapan?"
"Nggak tau juga nih," senyum usil Nikki mengembang.
"LO..?!" teriakan Rey tertahan di ujung sana.
"Pokoknya gue percaya kalau elo bisa nanganin si Aryo, Rey. Elo kan Kakak gue yang paling keren."
"Semoga aja. Nanti gue kabarin lagi perkembangannya, dan jangan lama-lama. Alasan gue ke ortu juga ada kadaluarsanya, Nik. Ati-ati ya, talk to you soon." kata Rey lalu mematikan sambungan teleponnya.
Menghembuskan nafas berat, Nikki setidaknya bersyukur punya Abang superhero model Rey. Kalau Rey udah tau gini, dia juga nggak bakal kekurangan selama masa kaburnya dari rumah.
Beberapa saat kemudian Nikki sudah sampai di Hotelnya, di kawasan Ubud. Dan kembali tersenyum puas review yang dia lihat di hotel beberapa hari lalu benar nyata memuaskan.
Ia lalu merebahkan badannya ke atas tempat tidur, mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan sendiri di Bali.
Pikirannya mulai menerawang watersport, kuliner, belanja, clubbing, lalu apa lagi?
Seharusnya dia bawa Casey kesini juga, haruskah?
casey : LO DI BALI?! apa-apaan lo nik
mau ikut kg?
casey : bercanda lo? kerjaan gw?
ya kan cm nanya, kl lo jwb iy ayo jalan dah
casey : nggak
Nggak tahan dengan percakapan lama semacam itu, Nikki mendial nomor telepon Casey, "Ikutan lah, Sey!" todongnya begitu telepon diangkat.
"Lo bayarin gue?!" Casey menodong balik.
"Iyalah." jawab Nikki cepat.
"Sinting lo ya."
"Kabarin gue cepet kalau mau. Abis gue capek di Jakarta." curhat Nikki.
"Iya, gue kerja dulu. Lo ati-ati disana."
Seiring dengan matinya koneksi, Nikki kembali sendiri.
Namun sedetik kemudian, memaksa dirinya untuk bangkit, ia mengambil selendang Balinya, dan melilit pakaian renang yang ia kenakan dengan itu, mengambil majalah yang tadi dia beli di Bandara, kacamata hitam serta handuk Hotel ia berjalan menuju kolam renang. Menikmati Bali.
Bali
10.27
"ARGH!!!" teriak Nikki kaget.
Baru sebentar ia jatuh tertidur dengan majalah masih terbuka, ia dikejutkan oleh cipratan air kolam yang membasahi separuh badannya.
Kesal setengah mati, ia terbangun dengan sangat kaget, Nikki sontak membuka kacamata hitamnya dia menatap si penganggu tidurnya dengan tajam.
"Sorry, sorry. Sorry banget sumpah, gue nggak maksud gangguin lo." suara bariton itu terdengar merasa bersalah dan sedikit ketakutan.
"Jadi orang yang sopan dong! Gue disini juga punya hak!" semprot Nikki tanpa ba-bi-bu. Jantungnya saja masih berdetak cepat saking kagetnya.
"Iya sorry sorry, beneran gue tadi didorong. Gak maksud serius, sorry banget ya, sorry, sorry." kata cowok itu lagi.
Tanpa mengatakan apapun Nikki melompat keluar dari kursinya, meninggalkan majalahnya yang sedikit terlempar.
Masih terlalu kesal dan kaget untuk memaafkan.
Label:
#2012,
#storryteller
19 May, 2012
Bahasa Mustika Kita
Agak memalukan menerima fakta dimana saat saya menggerakkan krusor laptop, menulis tulisan baru di blog dan terdiam lebih lama untuk mencari kata-kata yang pas dalam bahasa Ibu sendiri dibanding bahasa asing yang tidak begitu dikuasai.
Lebih mudah menulis "hi people" dibanding mencari kosa kata dalam Bahasa Indonesia. Bahkan sampai kalimat ini dibuat, tidak kurang dari lima kali, saya sudah menekan tombol "hapus". Dengan agak lama.
"Kenapa kamu tidak memulai untuk menulis dalam Bahasa Indonesia?" satu selentingan teman beberapa hari yang lalu.
Kembali, hal ini sedikit memalukan untuk disibak. Bahasa sehari-hari saya bahasa Indonesia, tapi untuk menulis dan menuangkan hati menjadi kata itu tidak terbayang susahnya. Jangankan tulisan, presentasi saja terkesan lebih keren dan lebih mudah dibuat dengan bahasa apapun, asal bukan Bahasa Indonesia. Sering kali dalam waktu lampau, sebelum saya menulis saya membayangkan kata pertama apa yang akan saya tulis. Sebelum hati dan otak, keduanya mengiyakan, biasanya saya berakhir dengan menutup layar laptop. Atau dengan cara yang lebih mudah, saya mengganti dengan bahasa Inggris yang nggak teteh.
Sampai akhirnya hari ini, kelihatannya saya sudah kembali pada keputusan untuk menulis dalam bahasa Indonesia. Entah berapa lama lagi tulisan saya dapat diterbitkan, atau dapat dimuat di media yang lebih besar dibanding "hanya sebuah blog", saya menundukkan hati dan mau belajar untuk bisa membagikan apa yang dirasakan hati kepada sebuah tulisan.
Bukan masalah kata ganti orang pertama mana yang mau digunakan, "gue", "saya", "aku", "beta", "kitorang"seperti banyaknya konteks dan pruralnya Indonesia, hal tersebut akan diadaptasikan sesuai dengan konteks. Sejauh ini itulah kesimpulan saya mengenai kata ganti orang pertama.
Tanpa mengesampingkan pentingnya mempunyai kemampuan berbahasa asing, saya tidak menjanjikan ada tulisan ato postingan lain dalam blog ini akan selalu berbahasa Indonesia, loh. Tapi semoga saja komitmen yang saya buat pada hari ini berbuah fakta ;)
Ada satu puisi dari Om Ray Sahetapy, saat kemarin saya bertemu Beliau dalam sebuah perbincangan film. Dan sebelum mengutip kata tersebut, saya harus minta ijin dahulu karena kebanyakan kutipannya tidak akan sama persis.
Lebih mudah menulis "hi people" dibanding mencari kosa kata dalam Bahasa Indonesia. Bahkan sampai kalimat ini dibuat, tidak kurang dari lima kali, saya sudah menekan tombol "hapus". Dengan agak lama.
"Kenapa kamu tidak memulai untuk menulis dalam Bahasa Indonesia?" satu selentingan teman beberapa hari yang lalu.
Kembali, hal ini sedikit memalukan untuk disibak. Bahasa sehari-hari saya bahasa Indonesia, tapi untuk menulis dan menuangkan hati menjadi kata itu tidak terbayang susahnya. Jangankan tulisan, presentasi saja terkesan lebih keren dan lebih mudah dibuat dengan bahasa apapun, asal bukan Bahasa Indonesia. Sering kali dalam waktu lampau, sebelum saya menulis saya membayangkan kata pertama apa yang akan saya tulis. Sebelum hati dan otak, keduanya mengiyakan, biasanya saya berakhir dengan menutup layar laptop. Atau dengan cara yang lebih mudah, saya mengganti dengan bahasa Inggris yang nggak teteh.
Sampai akhirnya hari ini, kelihatannya saya sudah kembali pada keputusan untuk menulis dalam bahasa Indonesia. Entah berapa lama lagi tulisan saya dapat diterbitkan, atau dapat dimuat di media yang lebih besar dibanding "hanya sebuah blog", saya menundukkan hati dan mau belajar untuk bisa membagikan apa yang dirasakan hati kepada sebuah tulisan.
Bukan masalah kata ganti orang pertama mana yang mau digunakan, "gue", "saya", "aku", "beta", "kitorang"seperti banyaknya konteks dan pruralnya Indonesia, hal tersebut akan diadaptasikan sesuai dengan konteks. Sejauh ini itulah kesimpulan saya mengenai kata ganti orang pertama.
Tanpa mengesampingkan pentingnya mempunyai kemampuan berbahasa asing, saya tidak menjanjikan ada tulisan ato postingan lain dalam blog ini akan selalu berbahasa Indonesia, loh. Tapi semoga saja komitmen yang saya buat pada hari ini berbuah fakta ;)
Ada satu puisi dari Om Ray Sahetapy, saat kemarin saya bertemu Beliau dalam sebuah perbincangan film. Dan sebelum mengutip kata tersebut, saya harus minta ijin dahulu karena kebanyakan kutipannya tidak akan sama persis.
"Nusantara, nusa adalah tanah, dan tara, yang berada di antara air. Apa artinya? Adalah perbandingan jumlah yang adil antara tanah dari air, yang melambangkan perdamaian." -- Oom Sahetapy, kurang lebih.
Pada saat beliau mengucapkan rentetan kalimat dalam bahasa Indonesia, dan kebanyakan mengandung rima serta kosa kata yang banyak saya lupa kita punya. Menyadarkan kepala, dan menyeret otak untuk bekerja lebih keras.
Dan menulis dengan lebih baik.
13 May, 2012
Never Fails
"Bukan masalah kamu dimengerti atau tidak dimengerti. Masalah kamu mau lepasin mereka yang salah ngerti aja." - Mama, saya lupa kapan tanggalnya.
Secara internasional hari ini diperingati sebagai Hari Ibu Sedunia. Berbeda dengan penetapan Hari Ibu yang sah di Indonesia, yang masih diperingati Desember nanti. Dan sedikit agak berbeda dengan keluarga lainnya, secara tradisi, keluarga saya tidak pernah memperingati semacam Hari Ibu, Hari Ayah, Hari Kebangkitan Nasional, Pendidikan Nasional dan sebagainya.
Paling mentok, yang kita peringatin cuma hari ulang tahun masing-masing saja, dengan hobby bersama, makan sampai nggak bisa napas.
Tapi kalau boleh dibilang orang yang paling males buat dirayain hari jadinya di keluarga, antara dua orang, kalau nggak Papa, ya Mama.
Reaksi Papa kalau dikasi kado paling senyum-senyum bahagia sepanjang hari. Walaupun awalnya nolak-nolak. Mirip-mirip kaya Papa, reaksi Mama kalau dikasi kado nolak-nolak awalnya, maksa dibalikin buat dipake anaknya sendiri. Dan walaupun pada akhirnya diterima, banyak kemungkinan di masa yang akan datang Mama akan ngeluarin kata-kata macam gini, "Baju yang kemarin kamu kasih Mama belum pake loh. Sayang sih... kamu nggak mau pake? Baju Mama udah banyak."
"Baju Mama udah banyak?" Hm, yang jelas itu pasti bukan kenyataannya. Udah gitu tiap barang yang dikasi selalu di beri kasih sayang berlebih. Tau dari mana kalo barangnya disayang? Waktu yang nulis ini balik kampung (baca: pulang ke rumah- secara hidup jadi anak rantau). Baju yang dikasi masih tergantung mulus di rak baju paling tengah, beserta label bajunya pun masih ada. Padahal udah lewat setengah tahun dikasi.
Untuk informasi aja, Mama suka shopping, tapi di pasar bukan toko baju.
Selain hobby nawarin pakaian yang dikasi tapi engga dipakai-pakai, Mama juga orang yang paling hobby ngasi wejangan-wejangan (*nasihat). Bukan wejangan model sekolahan yang semua anaknya didudukin terus diajarin soal wahana kehidupan, tapi lebih ke "apa sih yang nggak mau Mama ajarin ke anaknya?"
Dulu waktu kecil sih wejangannya lebih kedengeran bikin jengkel kali ya. Kaya, "Uang kok abis terus? " "Handphone ilang?! Nggak usah Mama kasih lagi ya!" "Belajar! Jangan main terus. Kalau nggak pulang aja balik ke kampung." atau, wejangan yang paling top diantara semua wejangan, "Makan dulu baru boleh pergi. Semuanya harus habis nggak boleh ada yang sisa."
Kalau nggak keluar rumah sampe perutnya nyundul dikit kedepan kayanya Mama ga bakal puas liatnya. Dan kalau diprotes soal begituan, responnya paling banter, "Kalau kekecilan roknya. nanti beli baru."
Waktu umur segitu sih nggak pernah nanya kenapa harus disuruh begitu. Gedhean dikit baru pinternya keluar dari otak yang nulis nih.
Tiap kali Mama nanya, "udah belajar? Belajar yang pinter, biar nanti jadi orang sukses" yang nulis engga pernah inget gimana waktu Mama cerita pengen sekolah waktu kecil tapi nggak nyampe-nyampe karena harus bagi-bagi sama adiknya. Makanya dari kecil diles-in baca, nulis, bahasa inggris, musik, sempoa, semuanya deh. Dan nggak satu pun dari les-les melelahkan di masa kecil itu terbuang sia-sia. Kalau Beliau nggak punya kesempatan buat ngelakuin satu hal, paling enggak, anak-anaknya harus punya. Mana ada sempet kepikir, di kota kecil, umur masih bisa banget dihitung jari udah dilesin bahasa inggris, kalau nggak kerennya Papa Mama tuh.
Atau dengan bahasa simpelnya, Mama udah mikir hal-hal yang kita waktu itu belum bisa mikir. Sama juga kaya sekarang.
Kalau misal dapet makanan dari tetangga. Barang sekecil, seaneh, seabsurd, se-engga enak apapun, selalu dibawa pulang terus ditawarin dulu ke anak-anaknya satu-satu. "Mau nggak? Ini tadi dikasih, coba dulu sapa tau kamu suka."
Kalau geleng kepalanya nggak cukup keras, atau tidak mencukupi standart Mama, jaminan itu makanan absurd pasti bakalan masuk ke mulut. Yang absurd aja masuk, apalagi kalo pas dibilang doyan sama makanannya, besoknya lagi Mama bisa bawa pulang lebih dari yang dibayangkan. Sampe eneg, dari doyan sampe emoh. (*nggak mau)
Dulu waktu kecil juga sering nanya, "Ma, kenapa sih orang gedhe itu hidupnya susah? Yang suka dibilang nggak suka. Kalau nggak suka sama orang keliatan disuka-sukain? Kalau nggak suka kenapa nggak bilang aja?"
Mama sih waktu itu cuma ketawa kecil, "Makanya, kalau kamu besar nanti, jangan kaya gitu."
Eh, nggak juga sih. Meskipun wejangannya diinget sampe gedhe, emang naluri dasarnya nggak nurut kali ya, wejangannya nggak nyampe ditingkah laku.
Udah gedhe gini, tiap kali ribut sama orang, protes ke Mama. Kenapa orangnya jahat, gini gitu (ya enggak selalu protes setiap saat sih). Bahkan herannya, dan kerennya, kalo yang nulis nih belum sampe ngomong, cuma diem aja gitu, Mama kaya punya indra keenam yang radarnya udah kemana-mana. Tau-tau bisa cerita tentang siapa gitu, trus nyambung aja. Pas banget sama jawaban yang diperlu.
Awalnya selalu bilang di batin, "Duh! ketauan nih lagi nggak enak hati."
Tapi semua dan apa yang dibilang Mama sekarang udah nggak lagi bikin jengkel. Atau nggak lagi bikin yang nulis nih ngeyel. Tapi justru jauh kebalikannya.
Satu quote diatas itu satudari seribu hal yang Mama pernah kasi tau. Istilah kerennya, "jok ngarep nang menungsa" (jangan berharap pada manusia). Kalau yang baca post ini dan tau yang nulis secara pribadi, dan gimana bebalnya dia, sekaligus keliatan gimana "nggak tertembusnya", sebenernya nggak segitunya juga sih. Rapuh sih iya, pengen nyerah? ribuan kali. Marah? nggak keitung, kecewa? beh udah kaya jam minum obat. Dan Mama itu udah kaya rumah, dimana tanpa ada kata-kata keluar pun, seperti jawaban itu keluar dari setiap apa yang Mama lakuin. Kaya ada suara hati yang bilang, "Kamu itu baik-baik saja."
Perasaan aman itu loh, yang buat sampe sekarang ini kalau orang lain salah ngerti, marah marah, bikin kecewa, pergi nggak balik, meskipun jengkelnya sampe ujung teluk hati, kalau inget ada orang-orang lain yang selalu ada di sana waktu kita kesandung sampe sujud. Itu yang bikin ada kekuatan super power ekstra buat balik lagi berdiri.
Kalo ada hal yang buat kita ngerasa nggak adil, satu senjata ampuh Mama yang bikin nggak bisa ngomong, "manusia lihat pakai mata, Tuhan lihat ke hati."
Selalu diajarin kalau punya segala suatu yang lain itu bonus. Apa yang baik dilihat mata itu bonus, yang pertama dan selalu Mama bilang, "Hati, harus dijaga dengan hati-hati."
Kenapa coba pengertian yang ampuh dan keren macam gini baru gedhe gini ngertinya? Coba kalau dari kecil udah bisa ngerti ya. Gimana segala sesuatu yang Mama bikin itu selalu punya maksud dan tujuan. Kalau nggak pernah bisa liat apa yang Mama bikin buat kita, mungkin hal yang paling simpel mereka selalu ucap doa dan sebut nama satu-satu.
Apa lagi yang buat kita nggak ngerasa aman?
Mungkin bisa dibilang sekarang ini bisa sedikit ngerti gimana hati dan maksudnya Mama itu menyenangkan. Atau paling nggak bisa jadi tau kalau "cinta" itu ada. Yang bisa tahan sampai puluhan tahun dan nggak pernah bisa berhenti.
Yang buat kita ngerti, kalau sayang sama orang itu rela menyalurkan bagian diri kita yang lain. Tanpa kita sendiri merasa ada yang berkurang.
Menyayangi orang lain, juga berarti nggak nyerah dengan apa yang ada di dalam diri orang itu. Nggak pernah nyerah.
Menyayangi orang lain, bukan berarti kita tidak pernah jengkel atau kecewa, tapi gimana respon hati waktu daging dicubit-cubit. Jengkel dan kecewa hanya satu bagian dari menjadi dekat dengan orang lain.
Dan akhirnya, satu dari seribu warisan yang Mama kasih adalah satu kalimat ini:
"Love never fails."
HAPPY MOTHERS DAY TO ALL AWESOME MOMS!
Label:
daily diary,
ohana,
thoughts
09 May, 2012
Quote of the Day
"Its not diamond or gold is the best thing that you can give. Without them, we're all fine anyway. Not like times, because we never know when is our time out."
time out isn't always refers to death. often times, it refers to goodbyes.
my (not so) new baby.
the thank you card.
still lots to repair though, but i am quite happy with what i have now. Thank God.
Label:
business,
daily diary,
mademoiselles
30 April, 2012
paix (:frc)
Lately i've been having this weird syndrome. i don't know if its just me or some of you might have it too. I called it as after-teen syndrome. It feels weird to know that you're not that young as you hope. In fact we're all can not be always young physically, but i think i/we need to have "forever young" mental. like keep rocking and swaging in everything we do.
This syndrome effected me quite hard. The bad things if you get this syndrome, you'll see yourself in the mirror twice older that you actually are. Sometimes you get lost in your self, thinking about things, worrying about things that you shouldn't be too worry about.
Mostly the questions that popped up in my head is, "what future will be like?"
like i can not wait to see. because seeing it as a mystery is quite scary.
what i want to do after college, the decision that i should take, what if i take it wrong, what will i go from there, why it can not be smooth as i planned my dream before in high school, why growing up should be this complicated, why i am asking myself so many things when i know i can not answer it.
Those things, had freakin me out.
Yes, it had.
But i still don't know the answer though. And thank God i don't know about the answer. I would be pretty scary if i can see the future and answering all of those questions.
For me it came to one point, "asking 'why' and 'what if' and 'what will happen'" won't help you get the answer soon. Just like "A Walk To Remember" song, only "Someday We'll Know"
I had some questions answered when i asked them long time ago. And some of them i asked yesterday. Like having a little faith, all of them will be answered in time.
This syndrome effected me quite hard. The bad things if you get this syndrome, you'll see yourself in the mirror twice older that you actually are. Sometimes you get lost in your self, thinking about things, worrying about things that you shouldn't be too worry about.
Mostly the questions that popped up in my head is, "what future will be like?"
like i can not wait to see. because seeing it as a mystery is quite scary.
what i want to do after college, the decision that i should take, what if i take it wrong, what will i go from there, why it can not be smooth as i planned my dream before in high school, why growing up should be this complicated, why i am asking myself so many things when i know i can not answer it.
Those things, had freakin me out.
Yes, it had.
But i still don't know the answer though. And thank God i don't know about the answer. I would be pretty scary if i can see the future and answering all of those questions.
For me it came to one point, "asking 'why' and 'what if' and 'what will happen'" won't help you get the answer soon. Just like "A Walk To Remember" song, only "Someday We'll Know"
I had some questions answered when i asked them long time ago. And some of them i asked yesterday. Like having a little faith, all of them will be answered in time.
"faith isn't about how much you believe, but how good God is"
I also came to this, when I have nothing to believe or hang my self on, faith is the only thing that's left. And freakin out won't solve anything either. Only make things worse. Same thing on worrying, it worse than whatever. You worry about things that never actually happen. It just like hurting your own mental.
Now after i got all of those, i am learning something again. There always be something to learn in whatever happen right?
Being joyful, in peace, have faith and love also being secure that everything is in control finally got me back in the track.
Label:
daily diary,
rhema,
thoughts
Subscribe to:
Posts (Atom)


